MEMANG BENAR GENERASI EMAS, TAPI EMAS YANG SEPERTI APA?
Intinya saya sedang tidak bisa berkata-kata. Ya tapi ini tetap menjadi bentuk rangkaian kata-kata.
Pagi tadi saya membaca sebuah
kolom yang menarik di Koran. Lanjut tengah malam ini, baru sekitar beberapa
menit yang lalu. Entah bagaimana ceritanya, jemari tangan saya mengarahkan pada
artikel tersebut.
Wajah dari 2 perbandingan yang
amat sangat jauh. Bahkan tidak bisa untuk dikatakan setara. Iya, setara
sama-sama memiliki nilai perjuangannya masing-masing. Usaha serta ketekunan.
Namun bukan itu yang menjadi kegelisahan saya. Terlihat sangat berat sebelah.
Kemudian ketakutan-ketakutan
datang menghampiri. Muncul pertanyaan, “Lalu, ketika saya telah mengetahuinya.
Apa yang seharusnya saya lakukan sebagai anak muda yang katanya Generasi Emas
bagi mereka? Apakah hanya berdiam menyaksikan dengan sayu, sedih, berkaca-kaca
bahkan hingga menangis akan menyelesaikannya begitu saja? Akan teratasi sekejap
mata?
Malam makin larut dan semakin
melebarkan selimut dinginnya, gelisah itu semakin menjadi-jadi.
Saya teringat dengan peristiwa,
tepatnya akhir tahun 2020. Saat saya mengikuti sebuah ajang kedutaan atau
kepeloporan seorang pemuda di desa atau daerah atau lingkungan tempat tinggal.
Saya dengan sangat percaya diri dengan apa yang akan saya bawakan untuk
dipresentasikan akan membawa atau akan mengantarkan saya kepada suatu hal itu.
Namun setelah saya mengikuti
ajang tersebut saya tersadar sesuatu. Tiba-tiba pikiran saya berputar kepada
ingatan saya semasih duduk di bangku MTs. Apa yang bisa saya lakukan dengan
tempat tinggal saya berada?
Dan sekarang, setelah hari itu
saya berusaha melakukan hal tersebut, namun selalu saja seolah buntu. Apa yang
harus saya lakukan?
Terkadang menjadi anak dari orang
yang berpengaruh akan sedikit banyak membantu. Namun faktanya yang masih
berkutat dengan organisasi saja masih benar-benar ngoyo. Lalu apa yang
salah? Relasi saya, kah? Pengetahuan saya kah, yang kurang mumpuni? Atau masih
perlu banyak hal lagi kah yang harus saya lakukan agar mampu mencapai pada
level mempuni?
Lah tapi, jika harus mencapai
level mumpuni terlebih dahulu apakah akan sempat? Apakah itu termasuk sebuah
ketidaksia-siaan?
Ketika saya sadar hal tersebut
pertama kali, saya ingin menangis seketika. Tapi buat apa menangis? Apakah akan
menyelesaikan? Apakah orang-orang lantas memberikan perubahannya begitu?
2 berita itu tentang seni. Dari
dulu saya memang menikmati dan penikmat seni. Tidak seperti kebanyakan orang
yang lantas tahu semua hal saat akan menyebut seni. Intinya saya sangat
menyukai. Dan setelah membaca 2 berita tersebut saya merasa hampa. Di desa saya
sendiri pun mengalami hal serupa apa yang dialami orang di berita yang kedua
saya baca.
Umur yang sudah senja dan siapa
yang akan melanjutkan atau mewariskan apa yang sudah dijalani dan ditekuni
selama bertahun-tahun. Sama halnya dengan tanjidor, music khas dari desa saya.
Yang kini semua pemainnya adalah orang-orang berumur begitu senja. Dan pada
suatu acara peresmian yang kebetulan saya hadir, dan menjadi kondak atau
dirijen.
Saya menyaksikan Kakek-kakek,
sedang bermain tanjidor. Semuanya adalah orang yang sudah sepuh, tidak terlihat
anak muda satu pun di sana. Di saat sudah selesai memainkan sebuah lagu yang
dibawakan mereka turun. Dengan usia rentanya, mereka begitu kepayahan. Saya
sampai tidak hati melihatnya.
Kemudian saat selesainya acara
tersebut saya pulang, dan saya berpapasan dengan beberapa Kakek pemain
tanjidor. Salah satunya membawa bedug kecil, dan hendak dinaikkan ke atas
motornya. Namun begitu sangat kesusahan. Saya hendak membantu, tapi syukurlah
ada Bapak-bapak dengan sigap langsung membantu dan mengikatkan tali untuk
keamanan alat music tersebut.
Dalam situasi tersebut saya tidak
sengaja mendengar percakapan mereka berdua.
Bapak-bapak yang menolong, “Iso
to ra?”
Kakek itu menjawab, “Isok, aman.
Tapi yo mbuh kapan ngene terus. Gak enek seng ape gantini.”
Saya bagai tersengat listrik
tatkala mendengarnya. Sedangkan saya yang pernah mengikuti ajang pemuda
kepeloporan, dengan keadaan seperti itu dan peristiwa yang amat menggetarkan,
saya baru menyadarinya. Bahkan baru mengetahuinya langsung di depan mata. Jadi
selama ini yang saya lihat itu ke arah mana?
Memang saya tidak menampik dengan
keadaan yang serba teknologi. Dan anak-anak muda suka yang berbau modern,
canggih, cepat sekaligus keren. Iya seharusnya hal ini tidak bisa dibandingkan
dengan yang sesuatu sudah dibranding dan lain-lainnya. Ya seharusnya juga para
pelaku music dan seni setidaknya dapat membantu atau ikut membranding.
Eh atau itu bukan hanya tugas
mereka atau malah bukan, tapi tugas generasi yang sadar akan hal tersebut?
Wedi-Kapas-Bojonegoro, Januari 2022

Komentar
Posting Komentar