Sembunyi
Aku ingin sedikit saja melepas semua tentangmu, menghilang atau sekadar mengintipmu di balik paling mukaku.
Lelah sekali rasanya jika terus saja dipendam.
Walau kenyataan mengatakan,
sesungguhnya perempuan sangatlah tangguh dalam memendam rasanya.
Pernah diceritakan mampu menembus empat puluh tahun lamanya.
Namun, bagaimana nasib perempuan biasa seperti diriku ini? Yang berbohong saja tak akan kuat menahan lamanya.
Yang berpura saja, akan memulai asa dalam realitanya.
Rasa ini, jujur saja. Aku belum mengerti ini apa. Dan bagaimana arahnya.
Direka saja, tak kuat saja hati mengiaskannya.
Menjumpaimu dalam temu saja, aku adalah orang yang tak mengenal sesiapa pun.
Kecuali pada batu dan patung.
Dan bagai seorang pengintai, sekilas saja aku perhatikan dirimu, yang kebetulan,
mata ini bersama matamu saling bertubrukan.
Harus aku siarkan bagaimana ke hadapan hati?
Pula dada yang terus berusaha mengetuk sendi-sendi pintunya. Pada ukirnya kian mengerut karena getar halus.
Bodoh? Itulah aku.
Tertawa-tawa sendiri akannya.
Tatkala kenyataan menggaungkan sabdanya,
"Itulah bagian dari harapmu yang masih diam-diam melaju dalam landas doamu."
Tapiku,
ah, sudahlah.
Jangan lihat sorot dua bola mata ini.
Maka,
aku menjadi naif di pancar hangatmu.
Hingga memilih meneduh di balik ekor mata.
Bojonegoro, 01 Sya'ban 1441 H
Jumat, 26 Maret 2020

Semangat untuk terus menulis.
BalasHapusIya terima kasih
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus