unek-unek
Apa
makna peduli itu sendiri? Apakah semacam benar-benar selalu ada? Atau yang
diam-diam melakukan banyak hal untuk seseorang. Dalam berarti untuknya?
Apa
pengertian dan peduli itu, sama? Bagaimana dengan perhatian? Apa bedanya dari
itu? Atau memang benar-benar berbeda?
Lantas
kenapa saat seseorang sungguh melakukan sesuatu. Tanpa satu pun tidak ada yang
menengok ke arahnya?
Semacam
apakah kepedulian itu?
Sahabat?
Kawan? Bagiku saja maknanya. Yaitu, teman.
Kenapa?
Bertemu pada momen tertentu waktu memperkenalkannya. Diberikannya untuk orang
merasa bahwa tidak sendirian. Melakukan banyak hal dan berbagi segala yang
dilalui. Berbaur dan saling mengeratkan.
Tentang
saudara?
Konteks
ini berbeda lagi.
Mereka
sudah ada pada ikatan tersambungnya masing-masing.
Jadi,
sikap peduli atau berteman mungkin terjadi pada waktu juga mempertemukan.
Bedanya, sudah berada di lingkungan yang sudah dikenalnya. Meskipun baru
mengenal siapa sajanya. Bisa saja menjadi teman atau sama sekali tidak saling
berusaha mengenal. Karena memang begitulah. Momen itu jarang terjadi.
Terjadi
pun kala suatu hal dilaksanakan.
Teman
dan peduli. Peduli dan teman.
Aku
masih penasaran dengan dua hal itu.
Apa
jika sudah peduli adalah seorang teman? Atau. Tatkala menjadi teman barang
tentu akan peduli?
Bagaimana
kalau peduli itu bukan teman? Kasihan mungkin. Bisa saja memang patut untuk
diberi sebuah kata ‘peduli’ tersebut.
Teman?
Nyatanya
lebel tersebut sudah tertera. Dan mereka tidak peduli. Peduli? Akan menyebut
arti semacam dari sisi mana? Dari yang selalu ada? Ada saat berduka? Saat
bersuka? Saat bosan? Saat, bahkan dia tidak ingin melihat dunia sekali pun?
Jadi,
yang bagaimana?
Menanyakan
hal ini akan menjadi bahan tertawaan.
Tidak
percaya?
Ketika
aku menyakan hal sama yang ingin dimengerti. Bukan jawaban yang aku dapat.
Malah sebuah gugatan akan mengembalikan pada awal mula belajar kembali. Lantas,
apa salah menanyakan pertanyaan tersebut?
Apakah
itu termasuk menunjukkan sesuatu kekurangan yang dikatakan dengan
ketidakpahaman fatal?
Yang
sering membuatku bertanya adalah. Tentang perkataan orang terhadap diri
sendiri. Mengatakan diri sendiri mempunyai progres. Sedang. Sedangkan. Pada
waktu pertanyaan itu terlontar ingin mengembalikan ke semula.
Bagaimana
bisa begitu?
Lalu,
apa hubungannya dengan semua yang ada diawal?
Hubungannya
adalah, timbal balik aa dari kata peduli dan teman.
Jika
sungguh seorang teman, pasti akan membantu mencarikan jawabannya. Sekurangnya,
sedikit memberi celah, otak menjawabnya. Kalau peduli? Dengan sabar akan memberi
arahan. Makna dari semua itu.
Tampaknya
semudah itu.
Sesungguhny
itu bukan bagi orang lain, di luar pikiran kita.
Bisa
disebut jangan egois.
Tapi,
apakah aku tetap salah menanyakan hal itu?
Ya.
Aku pernah mengatakan bahwa. Yang mengetahui muasal sumber pemikiran manusia
dengan pertanyaannya. Yaitu, si penanya sendiri.
Mengapa?
Segala
yang di sekitarnya, bisa saja jawaban. Dan asumsi yang harus dikumpulkannya
menjadi pengertian baru untuk otak atau pemikiran memahaminya.
Membingung,
kan?
Sama
sekali tidak.
Kenapa?
Mengapa?
Bisa
dikatakan, manusia selalu punya segala hal yang terdapat dalam pemikiran
mereka.
Tentang
bagaimana apa yang menjadi jawabannya adalah. Itulah apa yang hasil dari olahan
otak, atau pemikirannya.
Jangan
menanyakan semua kerumitan itu.
Sumber
dari kerumitan kata itu sendiri. Sebenarnya, objeknya juga karena manusia lain
di sekitar. Memunculkan banyak hal yang ingin pikiran mengetahuinya. Dan wajar
saja semua itu. Tidak ada yang salah.
Harus
saling memahami saja apa yang tidak dimengerti diri sendiri.
Dan
menerima apa saja yang dilakukan seseorang.
Asal
dia tahu selalu apa yang menurutnya baik dan memang baik sesuai kodrat manusia
normal pada umumnya.
Apa
hubungannya semua itu?
Jujur
saja, aku masih mencari jawabannya.
Sebenarnya
sudah ada. Ya, tinggal bagaimana pikiran bekerja sama dengan otaknya memahami
semua kata-kata yang sudah baris-berbaris rapi tersebut.
Tahu,
apa yang pernah aku katakan seseorang.
Bahwa
manusia akan menemukan banyak hal yang menjadi pertanyaannya.
Siapa
yang akan dipercayainya. Yang terkecualikan di sini adalah pasangan hidup atau
jodoh dan keluarga sedarah. Ayah, Ibu, Kakak atau Adik. Hanya satu orang.
Sampai sekarang pun. Jika dirasa menemukan atau selalu bertemu dengan orang
berbeda di setiap pertemuan. Bertahan pada waktu tersebut saja. bisa saja bukan
itu.
Anehnya.
Merasa sangat dekat. Seolah dia adalah satu hal yang dicari bahkan
dibutuhkannya.
Ketika
berusaha memaknai hal tersebut.
Terjadi
sebaliknya.
Banyak
hal menciptakan keraguan tersebut.
Alhasil?
Mulai
meraba-raba semakin dalam dan belum juga menemukan makna-makna yang saja
menyamar di kegelapan.
Atau
mungkin terlalu terang.
Sulit
mata untuk menelanjanginya.

Komentar
Posting Komentar