Dia Lucu

Pada desa yang hening, dingin. Sepasang mata sulit untuk terpejam, barang sedetik pun. Pikirannya menggelayut pada segala hal yang terjadi hari ini. Salah satunya berhasil mencuri seluruh lelah, pun penatnya. Mata bulatnya menyorot seluruh gelagat, seorang yang ikut tertawa dengannya. Dia kebingungan, apa membuatnya untuk ikut tertawa. Mengiringi gerai suara tawanya.

Dia mendadak tersenyum-senyum sendiri mengingatnya. Menunggu dikira membosankan pagi menjelang siang tadi menjadi tanya yang besar. Tawa yang memunculkan ruang dalam senyuman, pikiran, dan hati. Hati? Tangannya kemudian meraba dadanya yang berdegup tiba-tiba.

"Apa waktu akan mengulang kembali kejadian sama pada esok siang? Memberi jeda untuk tak sengaja merasai degup-degup aneh ini, lagi?" gumamnya seraya menuliskan di atas lembar kosong.

--

Bunyi ketikan masih saja menggaung di sudut kamarnya. Tangannya sedari tadi tak henti-hentinya berlompatan untuk membuat nada ketik. Dia begitu terburu-buru melakukannya. Pasalnya, malam tadi dia tidur begitu larut dan telat untuk bangun pagi. Padahal dia sudah memasang alarm, baik di ponsel dan jam wekernya. Itu pun sama sekali tak membuatnya terbangun. Dan tiba-tiba dia terbangun begitu saja dari tidurnya, dan jumpalitan mengingat apa yang belum sempat dia selesaikan semalam.

Setelah semua dikira sudah selesai, dia bergegas keluar dan berangkat sebelum terlambat. Memasang jam tangan pun sampai kesusahan karena begitu gugup. Sepatunya bahkan belum sampai terpasang sempurna. Baru setelah jamnya terpasang sempurna, dia membenarkan sepatunya. Selesai, dan bergegas mengejar waktu.

Setibanya di salah satu ruko, dia tersengal karena berusaha lari sekuatnya. Namun tenaganya terkuras banyak. Semalam dia sama sekali belum makan apa pun hingga jam ini. Dia melirik jam tangannya.

"Ha? Masih jam..," dia sedikit tersentak setelah waktu yang ditunjukkan jam tangannya. "Aduh, kenapa aku gugup? Sekarang aku lapar sekali. Perutku meminta hal yang sudah menjadi jatahnya." Selorohnya dan berjalan memasuki kedai cepat saji yang berada persis di depannya.

Dia memesan porsi makanan yang lumayan. Jatah yang juga bukan sarapan. Karena waktu sarapan sudah lewat. Juga bukan makan siang. Belum menunjukkan tengah hari.

"Duo combo spesial, dan sausnya bisa ambil di sana.." ucap Pramusaji, dan telunjuknya mengarah ke sebelah. Dia berjalan mengikuti petunjuk.

Dirasa cukup, dia berjalan menyisir kedai mencari tempat duduk untuk menyantap makanannya. Tetapi, tak tersisa satu pun yang kosong. Kecuali satu meja yang di sana terdapat empat kursi, ditempati oleh seorang saja. Dengan terpaksa dia harus ikut menumpang duduk di sana atau dia berdiri sambil makan. Atau lebih buruk berdiri terus menunggu hingga ada yang kosong. Itu jauh lebih memalukan, pikirnya.

Cukup lama dia berdiri di hadapan orang itu yang rupanya tengah sibuk membaca buku, dan tak menyadari ada seorang yang tengah berdiri di hadapannya. Dia mengamati orang itu yang tampak santai membaca buku. Di kursi sebelah terdapat tasnya yang terbuka. Dia mendelik ketika menjatuhkan pandangannya di tas yang terbuka itu.

"Maaf, permisi!" tegurnya agak dikeraskan, agar orang di hadapannya mendengarnya. Benar, orang itu mendongak dan menatapnya bingung. "Belum tentu semua yang ada di sekitarmu berniat baik, jadi, alangkah lebih baik tutup tasmu. Maaf." lanjutnya.

Yang diajaknya bicara menoleh ke arah tasnya. Kemudian bergegas menutup tasnya sambil mengucapkan terima kasih. Dan tak lupa senyum yang merekah begitu saja dari bibir orang itu. Dia sedikit canggung melihat senyum itu meski sebentar, sekilas dan orang itu sibuk kembali dengan bacaannya. Dia teringat lagi dengan kesadarannya. "Boleh aku ikut duduk di sini? Kupikir hanya di sini yang masih kosong dibanding yang lain," ujarnya kembali.

Orang itu mendongak lagi dan tersenyum mengangguk. Sekali lagi, langsung kembali dengan buku bacaannya. Tak menghiraukan yang di hadapannya terus menatap gelagatnya, dan kembali tersadar, melanjutkan makannya yang tertunda.

Kepalanya mendongak. Dia tak sengaja menyunggingkan senyum saat menatap orang itu, yang sedang asik dengan bukunya. Lalu, cepat-cepat kembali menunduk saat sadar apa yang dilakukannya. 

Tatapan itu tak sengaja, wajar saja jika makan sambil mendongak dan menatap yang ada di hadapannya, dia membatin.

Tandas sudah makanannya dua porsi combo itu. Cukup cepat dia makannya karena benar-benar lapar, dan kembali dia melihat orang yang di hadapannya. Kini sedang tersenyum-senyum dan tertawa sendiri dengan buku bacaannya. Tiba-tiba saja, tanpa sadar dia ikut tertawa sendiri melihatnya. Tawa yang begitu lirih, tapi membuyarkan orang yang tengah fokus. Dan tawanya langsung tercekat saat orang itu sadar, dia ikut tertawa.

Buru-buru dia mengangguk dan mengucap maaf juga terima kasih seraya berdiri. Kemudian bergegas meninggalkan orang itu, sebelum dia benar-benar malu.

Selama berjalan, dia terus merutuki dirinya sendiri. Tengah apa yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Dia juga reflek begitu saja ikut tertawa. Pikirannya mencoba menghapus kejadian tadi. Tapi, tiba-tiba saja dia tersenyum-senyum lagi mengingatnya.

"Dia lucu.." gumamnya sambil tertawa-senyum dan terus berjalan dengan terus mengingat kejadian barusan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer